"Tujuan dari propaganda modern
adalah tidak lagi mengubah opini,
tetapi membangunkan sebuah kepercayaan yang aktif
terhadap mitos"

(Jacques Ellul)

Jumat, 25 Februari 2011

SKP, kuliah ke-4 : "Modernitas dan Krisis Solidaritas Sosial"

“… We can’t always to build the future for our youth.
But, we can build our youth for the future"
(Franklin D. Rooseve,t)
                                          URGENSI MODERNITAS MASYARAKAT MADANI
                                                                          (Johanes Bidaya)
                                                         

 Menelusuri modernitas dalam sejarah peradaban hidup manusia bukan merupakan suatu hal yang baru. Namun dalam perkembangannya, pembahasan mengenai modernitas kerap dipahami dalam pengertian yang ambivalen. Dimulai sejak munculnya akibat industrialisasi dan komersialisasi yang mampu membawa perubahan yang cukup berarti di Eropa pada abad kesembilan belas. negara-negara berkembang kemudian “berbondong-bondong” mengikuti jejak tersebut dengan upaya modernisasi di berbagai sendi kehidupan sosial masyarakat, baik itu ekonomi, sosial, politik, budaya dan sebagainya. Dalam hal ini, modernisasi menjadi suatu model (atau sekurangnya sebagai suatu standar) bagi perbandingan Negara di tempat lain.

Faktor terpenting modernitas adalah terjadinya perubahan dalam masyarakat. Begitu juga sebaliknya, modernitas tidak akan terjadi bila perubahan dalam masyarakat tidak terjadi. Demikian halnya Indonesia yang berada dalam proses transisi, modernisasi menjadi “apa” masih merupakan teka-teki. Disinilah letak kelemahan kita. Modernisasi bagi banyak orang seperti terbanting ke suatu lorong dengan kecepatan yang menakutkan tanpa mengetahui apa yang menunggunya di ujung lorong satunya. Modernisasi hanya terlihat sebatas kasat mata dengan wujud kemajuan IPTEK dan pembangunan disana-sini, tanpa memperhatikan implikasi lain dari proses modernisasi tersebut.

Penerapan teori modernisasi dan ideologi pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia ternyata menunjukkan hal yang berlawanan. Keberhasilan penerapan teori modernisasi di negara-negara Barat tidak sama apa yang dialami negara-negara Dunia Ketiga yang justru menimbulkan dominasi peran negara dan degradasi ekologi. Vandana Shiva, dalam pandangan Ecofeminismenya mencoba untuk mendifinisikan ulang bagaimana masyarakat melihat produktivitas dan aktivitas perempuan dan alam yang keliru dan dianggap pasif. Salah satu penyebabnya adalah program-program pembangunan yang salah sasaran dan rusaknya regenerasi ekosistem. Dalam hal ini, pembangunan yang salah sasaran merupakan dominasi terhadap perempuan dan alam melalui budaya patriarki. Akibatnya masyarakat akan menjadi miskin dan sengsara karena produktivitas alam dan kemampuan untuk memperbaharui menjadi rusak. Hal ini terlihat dari maraknya pengalih fungsian lahan dari lahan pertanian menjadi lahan perumahan serta tidak tersedianya lahan terbuka hijau di daerah perkotaan akan menimbulkan dampak negatif seperti banjir, tanah longsor, dan sebagainya. Selain itu, kesediaan bahan pangan akan semakin berkurang karena ketiadaan lahan. Perempuan di desa menjadi kehilangan akses pekerjaan karena degradasi alam yang memaksa mereka untuk merubah profesinya. Misalnya dari petani menjadi Ibu rumah tangga/ pengangguran.

Tentu saja, peristiwa ini bukan merupakan kejadian alamiah semata akan tetapi juga disebabkan karena adanya perbedaan tingkat kekayaan (modal) untuk melaksanakan pembangunan. Pada pertumbuhan awal negara-negara industri di Eropa Barat proses industrialisasi membutuhkan modal yang relatif kecil sehingga modernisasi dapat dijalankan oleh pengusaha, masyarakat, tanpa campur tangan yang besar dari negara. Sedangkan modernisasi di negara-negara Dunia Ketiga membutuhkan modal yang sangat besar karena ketertinggalan negara-negara tersebut dalam teknologi dan sumber daya manusia.

Adapun konsekuensi modernisasi yang menjadi perhatian kita adalah hilangnya kepribadian moral masyarakat (degragasi moral). Komunitas-komunitas yang umum kita kenal telah berubah bentuk. Semangat gotong-royong sirna oleh individual yang egois. Keanekaragaman menjadi sebuah penyeragaman. Masyarakat mencari bentuk baru bagi kesempurnaan, kepastian baru untuk menggantikan sesuatu yang dianggap telah hilang memalui perubahan. Sehingga konfrontasi yang menggembirakan di masa depan dengan mudah tergantikan oleh kecemasan mendalam. Dari sini, kita dapat mengetahui wajah baru modernisasi. Bukan hanya perubahan-perubahan institusional, melainkan lebih pada perubahan-perubahan kesadaran. Modernisasi tampak sebagai peralihan “dari” situasi yang lebih preimer, partisipatif, determinatif dan tertutup “ke” situasi yang lebih sekunder, distantif, kreatif, dan terbuka. Dalam pengertian ini, modernisasi dapat dipahami sebagai proses pembebasan, suatu proses yang bergerak menuju penyempurnaan.

Ketidakpastian adalah harga yang harus dibayar sebagai pertukaran masa lampau ke masa depan. Oleh karena itulah, masyarakat tersebut akan mengalami suasana yang berfluktasi antara perasaan yang menyenangkan dari adanya kebebasan baru serta harapan di masa depan dengan pandangan ketakutan, sinis, atau opurtunistis.

Dewasa ini, masyarakat madani sering kali terjebak dalam persoalan-persoalan modernisasi yang hanyut dalam arus globalisasi. Tak jarang, kearifan lokal menjadi tumbal bagi terciptanya modernitas suatu bangsa. Kita memang tidak sedang dihadapkan pada persoalan simpel apakah mau memilih menjadi tradisional atau modern. Sebab produk modernitas de facto, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup keseharian kita. Fastfood, Televisi, mobil, HP, mesin cuci, parabola, komputer hingga mainan anak-anak, telah menjadi kebutuhan masyarakat yang tak terelakkan. Kebutuhan sekunder atau tertier seakan terbalik menjadi kebutuhan primer. Inilah yang menjadikan masalah bertambah rumit. Di satu sisi, masyarakat tidak bisa mengelak dari serbuan modernitas, tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa melepaskan diri dari pelukan tradisi.

Sementara itu, sistem global tidak dapat dipisahkan dari sistem kapitalisme dunia yang memiliki titik tekan pada akomulasi modal, pengaruh dan keuntungan. Hegemoninya tidak terbatas pada sektor kehidupan aktivitas ekonomi masyarakat saja, tetapi juga merasuk kepada kehidupan sosial, budaya, pendidikan, informasi bahkan gaya hidup. Faktanya, hampir semua aktivitas sehari-hari dari kehidupan umat manusia sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme global. Akibatnya, aktivitas sehari-hari kita merupakan aktivitas yang cepat berubah dan bersifat sesaat. Dinamisme aktivitas seperti ini menciptakan komoditasi kegiatan yang mencari hasil yang cepat dan instan. Jika tidak demikian, dianggap tidak kompatibel dan jauh dari “trend” zaman. Hal ini membuat manusia kehilangan sisi humanismenya. Dan siap mesin-mesin penghancur. Segalanya telah terkooptasi oleh kepentingan “nalar” kapitalistik pasar. Produksi dalam negeri menjadi hancur akibat persaingan kompetisi yang tidak netaral. Akibatnya, banyak buruh yang di PHK. Pengangguran meningakat berbarengan dengan maraknya kriminalitas dan tingginya angka kemiskinan. Krisis inilah yang menjadi ancaman atas mimpi modernitas. Dimana solidaritas sosial tidak lagi diperhitungkan.
Radar Bandung, Senin 31 Januari 2011, “..Nasib buruh batako di Kampung Warung Jati, Desa Ciptagumati, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memprihatinkan..”. Pasalnya, selain minimnya upah ditambah tidak ada jaminan kesehatan. Salah seorang buruh batako, Iing,30, mengungkapan, sudah dua tahun bekerja, namun ia hanya mendapat upah yang minim. Pekerjaan yang tergolong berat ini tidak disertai dengan jaminan kesehatan. Tanggung jawab negara atas pelayanan kesehatan bagi warganya hanya tertulis di atas kertas.

Berangkat dari diskursus yang terjadi inilah kita dapat melihat bahwasanya modernitas bukan menjadi solusi jitu bagi pembangunan masyarakat menuju sejahtera. Kita dapat saja mengatakan bahwa saat ini kita sudah merasa menjadi bagian dari negara yang tergolong cukup modern. Akan tetapi, bila mau mengakuinya, kita ternyata belum siap untuk itu semua karena jarak antara si kaya dan si miskin ternyata cukup jauh. Kita hanya menjadi “korban” dari jargon modernitas untuk pembangunan ke arah yang lebih baik. Berbagai ketimpangan yang terjadi tersebut sangat berlawanan dengan tujuan dari terciptanya masyarakat madani (civil society).

Oleh karena itu, agar lebih mudah memahami modernitas secara mendalam, maka ada baiknya kita menjiwai 3 hal penting yang menjadi premis nilai utama bagi peran intelektual kolektif, antara lain:
 Pertama, yang modern itu seharusnya mengutamakan kesadaran diri sebagai subjek. Dalam arti ini, orang modern memperhatikan soal hak-hak asasi, fungsi ilmu pengetahuan, otonomi pribadi, dan demokrasi.
 Kedua, yang modern itu harusnya kritis. Dalam arti ini, orang modern cenderung mengeliminir prasangka-prasangka dari tradisi, memiliki gairah untuk mengkaji penghayatan, dan mempersoalkan dimensi autoritas yang taken for granded.
 Ketiga, yang modern itu harus progresif. Dalam arti, mengadakan perubahan-perubahan secara kualitatif baru. Kemajuan ilmu pengetahhuan dan teknilogi, bentuk-bentuk organisasi sosial modern, kesadaran akan pentingnya transformasi sosial bahkan revolusi sosial adalah beberapa contohnya.
 Ketiga “jiwa” modernitas ini tidak bisa dipisah-pisahkan dalam realitas, karena kegiatannya berkorelasi secara inheren. Kesadaran dan memunculkan kritik dan kritik memunculkan progresifitas, dan sebagainya.

Daftar Referensi:

Benjamin R.Barber, 2003. Jihad vs Mac. Word, Globalisasi dan Tribalisme Dunia baru.

David E. Apter dalam “The Politics of Modernization” (diindonesiakan oleh: Hermawan Sulistyo dan Wardah hafidz, 1987, “Politik Modernisasi”), Jakarta: Gramedia 1987

Hardiman F. budi, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis Tentang Metode, Penerbit Kanisius.

Soekanto, Soerjono, 1983 Pribadi dan Masyarakat, Bandung: Penerbit Alumni-IKAPI.

Sinaga, Anicetus B. dkk, 2004, Etos dan Moalitas Politik : Seni Pengabdian untuk Kesejahteraan Umum, Yogyakarta : Kanisius.

Shiva, Vandana & Marie Mies, Ecofeminism, Perspektif Gerakan Perempuan & Lingkungan : Penerbit IRE Press, Yogyakarta ,2005).

http://www.radarbandung.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=57049











Rabu, 23 Februari 2011

Modernitas dan Krisis Solidaritas Sosial (SKP ke-4)


Senjakala Waktu Senggang*
Oleh: Muhammad Ridha

Manusia modern adalah manusia yang ‘tidak punya’ lagi waktu senggang. Seluruh waktunya habis tersita oleh kerja, mengejar bermacam-macam cita-cita absurd modernitas. Jam kerja yang padat membuat manusia menjadi seperti robot-robot yang dijalankan oleh mekanisme kerja kapitalisme. Waktu senggang yang kata Fransiscus Simon (2007;60) berisi kegiatan ‘berdiskusi tentang kebenaran dan upaya-upaya menjunjungnya; berefleksi tentang pelbagai gelagat peristiwa kehidupan yang telah, sedang dan akan ada; berdistansi dan berabstraksi  dengan realitas yang digauli’ telah di ambang kepunahannya. Digerus, berkali-kali dan secara masif, oleh logika konsumsi.

Aristoteles pernah berharap agar  rakyatnya memiliki waktu senggang yang seluas-luasnya. Sebab katanya, meminjam Xenophon, “kerja menyita seluruh waktu dan dengan kerja orang tidak memiliki waktu luang untuk republik dan teman-temannya” (Paul Lafaurge;2008717-72). 

 Bisakah kita berharap itu saat ini? Berharap bahwa kemanusiaan kita tidak tercabik-cabik oleh kerja yang melulu mengejar dan bermimpi menggapai bermacam-macam, tetapi tidak pernah merasa mendapatkannya. Berharap agar setiap saat apa yang romantis dari sisi-sisi hidup ini bisa kembali dikenang, dinikmati atau bahkan kita rayakan sebagai sebuah perayaan kebebasan bagi manusia dari penjara kerja. Mengimpikan tentang berhentinya roda kapitalisme meraup dan terus melahap kapital dan mengorbankan kemanusiaan kita, para pekerja.  

Untuk menjawab pertanyaan ini, manusia modern yang dengan sengaja ‘diciptakan’ oleh kapitalisme untuk berpikir picik, akan dengan enteng menjawab: ‘di kota-kota sudah berderet mal, tempat kita berwaktu senggang secara bebas, secara terbuka!’ Manusia modern mempersilahkan kita ke mal. Tempat segala macam imajinasi manusia ada di sana. Walaupun perkenan ini dilihat secara kritis oleh Zygmunt Bauman (Celia Lury;1996;7) bahwa ‘semua komoditas (yang dipajang di gerai-gerai mal) mempunyai label harga yang melekat. Label harga ini menyeleksi tempat untuk konsumen potensial. Mereka tidak secara langsung menentukan keputusan konsumen yang memang perlahan-lahan akan diambil; hal itu tetap bebas. Tetapi mereka menetapkan batas antara realita dan kelayakan; batas yang tidak dapat dilampaui oleh konsumen. Di balik keseimbangan kesempatan yang dipromosikan dan diiklankan oleh pasar, tersembunyi praktek ketidak seimbangan konsumsi yaitu, berbagai tingkat perbedaan tajam dalam praktek kebebasan memilih’.

Masyarakat-Pelahap-Waktu senggang?

Sejak era sosiologi klasik, sosiolog Amerika, Torstein Veblen, menemukan kelas dalam masyarakat Amerika yang diberi nama ‘kelas waktu senggang’ dengan satu ciri mendasar; kelas yang ditandai dengan konsumsi yang berlebihan. Martin J Lee dalam bukunya Budaya Konsumen Terlahir Kembali (2006; ii) mengemukakan satu kelas masyarakat baru yang lahir dari haru biru proses kerja; masyarakat-pelahap-waktu senggang (leisure society). Masyarakat dengan means of consumtion (sarana konsumsi) baru (Baudrilard;2004). Apakah yang dimaksud kedua sosiolog ini seperti yang kita temukan sekarang di sekitar kita? Masyarakat seperti dalam data berikut dari sejumlah mal di Makassar:  Mal Ratu Indah yang dikunjungi 12000 orang perhari atau sama dengan sekitar 4,5 juta pertahun. Mal Panakukang dikunjungi 15 ribu orang perhari atau bila dikalikan, pertahun bisa melebihi 5 juta orang. Data ini menunjukkan angka jumlah pengunjung tahun 2006. Atau pengunjung mal GTC, misalnya pada tahun 2007 berjumlah 3.848.763. 

Bila benar inilah kelas waku senggang ini maka telah terjadi pergeseran makna waktu senggang. Dari sebuah hal yang produktif menjadi hal yang konsumtif. Telah lahir kelas yang berhasil mengekspresikan waktu senggangnya dengan terpaksa dan penuh tekanan. Dengan penghakiman biaya dan harga-harga di mal, dengan kekuatan media yang terus menyerbu bawah sadar kita untuk terus berbelanja, dengan berlimpahnya barang-barang produksi sampai ke dalam hal yang paling pribadi kemanusiaan kita.  

            Waktu senggang yang kita geluti saat ini adalah waktu sengang yang mahal, yang harus kita beli seharga diri kita di depan objek-objek konsumsi itu. Akhirnya waktu senggang, saat ini, hanyalah bagian lain dari konsumsi massal gila-gilaan. Konsumsi simbolik yang kita bayarkan demi sepotong harga yang akan didapatkan secara social. Hal ini menunjukkan bahwa waktu senggang pun sudah berubah menjadi kerja. Kata Baudrilard dalam Masyarakat Konsumsi (2004;203) ‘waktu adalah nilai tukar itu sendiri’. Dengan mengkonsumsi waktu senggang consumer ini sesungguhnya kita sedang bekerja dan berupaya meraih simbolitas diri. Kita mewakilkan diri kita kepada apa yang kita geluti (baca: konsumsi).

            Kapitalisme konsumen telah berhasil mencuri waktu senggang kita dan mengantinya (secara psikologis) dengan kerja simbolis. Pada titik inilah nampaknya waktu senggang bergeser menjadi konsumsi. Dan konsumsi memiliki biaya sendiri-sendiri. Dan biaya itu memiliki jerih payah kerjanya masing-masing. Akhirnya, bahkan, waktu senggang kita telah berubah menjadi kerja yang membosankan itu.

Kata Milan Kundera dalam novelnya Identity ada tiga jenis kebosanan: kebosanan pasif: gadis yang berdansa dan menguap itu; kebosanan aktif: para pecinta layangan itu; kebosanan yang memberontak: anak muda yang membakari mobil dan meremuk etalase toko. Kebosanan telah menimpa manusia-manusia modern atas kerja dan rutinitas yang materialis.

‘Bermalas-malasan’
Kalau begitu, mungkin tidaklah keliru kalau ada yang menganjurkan kita untuk malas. Sebab kerajinan kita bekerja telah melucuti banyak hal dari kemanusiaan kita.

Begini seruan klasik Paul Lafargue dalam sebuah buku kecilnya Hak Untuk Malas (2008; 5) untuk kita  ‘marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malasan’. 

Mungkin ini teguran bagi kita yang terus menerus bekerja mengejar banyak hal, sambil terus kehilangan banyak hal yang juga sungguh penting; cinta dan  minum dalam waktu senggang kita! Bagi saya ini aspek hidup kita yang juga penting.

*Tulisan ini adalah catatan pengantar untuk diskusi Sekolah Kebudayaan PMKRI Solo yang dilaksanakan di Solo.Dengan judul yang berbeda, tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas.

Daftar Bacaan

Fransiscus Simon Kebudayaan dan Waktu Senggang (Yogyakarta; Jalasutra, 2007)
Paul Lafaurge Hak Untuk Malas (Yogyakarta; Jalasutra; 2008)
Celia Lury Buday Konsumen Jakarta; Gramedia, 1996)
Martin J Lee dalam bukunya Budaya Konsumen Terlahir Kembali (Yogyakarta; Kreasi Wacana; 2006)
Jean P Baudrilard dalam Masyarakat Konsumsi (Yogyakarta; Kreasi Wacana; 2004)

Senin, 21 Februari 2011

Modernitas dan Krisis Solidaritas Sosial (SKP ke-4)

Rumah, Kota dan Perubahan

Oleh  Akhmad Ramdhon*

                                                      aku dilahirkan disebuah pesta yang tak pernah selesai                                                                                  selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini

                                                                                                                     Wiji Thukul

Setiap kita terbangun dalam sebuah ruang sejarah dengan dimensi yang kompleks. Dimensi yang terdiri dari narasi keakuan lewat relasi dengan kerabat, kekitaan lewat relasi dengan orang lain maupun kedirian lewat proses penyadaran diri yang berjalan terus menerus. Kesadaran yang ada lalu menjadi potret diri untuk dipajang dalam jejaring relasi sosial yang ada, dimana image diri menjadi pesan untuk orang lain untuk mempersepsikan sesuai keinginan. Interaksi berproses atas tarikan-tarikan makna antar individu dan pemaknaan atas seseorang untuk dipertentangankan dengan realitasnya sehari-hari.

Kedirian kita kemudian terbelah dalam beragam konstelasi. Jamak orang bersepakat, antara privat dan publik. Ruang-ruang tersebut kemudian secara berlahan menjadi konstruksi kedirian kita, dengan beragam atribut yang menyertainya. Privat seperti memberi batas secara tegas keberadaan diri dengan relasi yang luas, kompleks, saling menguntungkan, tak terkira, penuh dengan tanda tanya. Sedangkan makna publik kemudian menjadi sederhana karena dekat, tidak kompleks, dan sangat terbatas.

Kehadiran diri kita, bagi saya kemudian menemukan tempatnya dalam diskursus ruang. Ruang dimana diri hadir secara privat dan publik secara bersamaan. Ruang-ruang tersebut kemudian menjadi penanda kedirian kita dalam formasi rumah//house : bentuk, pola pintu, jenis tanaman, warna cat, nomor, jalan, erte, erwe, hingga nama kampung. Kesemuanya mempunyai nalar untuk dijelaskan. Setiap pilihan yang mencipta makna dalam rumah akan disusun lewat berlapis-lapis alasan, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Karena disitulah konsepsi kedirian kita kemudian didefenisikan oleh orang lain. Kontekstualisasi privat serta merta menjadi indikator yang kompleks, sebab seseorang dilekatkan oleh beragam piranti tanda oleh negara, oleh lingkungan dan oleh keluarga. Dan rumah menjadi bingkai besar sekaligus batas-batas makna tentang diri kita.

Rumah Membentuk Kita : Rumah adalah bingkai kekitaan. Didalam rumah, kita menjadi pemilik sekaligus pengikat atas batas-batas kepemilikan. Rumah menjadi asal muasal sekaligus simpul bagi bangunan nilai, bangunan kedirian, termasuk kesejarahan individu yang melebar dan membentuk kekerabatan yang luas. Dari rumahlah rangkaian panjang narasi dimulai untuk dikemudian diteruskan menjadi jejak-jejak biografis. Rahasia dirakit menjadi ikatan kepercayaan sekaligus memulakan hidup dan kehidupan.  

Sejarah individu dirancang dalam alam mimpi orang-orang tua lewat nama-nama yang sematkan sebagai sebuah tolakan untuk capaian tentang masa depan maupun rekaman atas makna-makna subjektif. Cerita masa lalu diperdengarkan sebagai warisan untuk titian masa depan, peristiwa lalu yang terekam dalam foto dipajang sebagai pengingat, dan petuah-petuah kemulian didendangkan sambil mengiringi larutnya malam. Canda cerita dirangkaikan dalam keseharian bersama narasi-narasi monumental yang mengikuti siklus kalender untuk menikmati hari libur, berkumpul dengan kerabat, arisan kampung, jadwal pertemuan muda-mudi, hingga hajatan tetangga, untuk kemudian mengulanginya kembali pada tahun yang akan datang.

Didalam rumah pula semuanya dilakukan : memilih apa yang mau kita makan, memakannya bersama-sama, berbincang, merancang cita-cita, mandi serta mencuci setiap hari, dan beragam kegiatan yang lain. Yang secara rutin kita melakukannya. Semuanya menjadi asal muasal dari sebuah aktivitas yang akan memberi dampak bagi aktivitas publik. Dari rumah, potret diri yang ideal dirangkai secara detil untuk dikenakan, mulai pasta gigi, sabun, sampho, minyak rambut, baju dalam, baju yang telah disterika, celana yang telah rapi, lengkap dengan gesper, sepatu beserta kaos kaki. Layaknya make-up maka utuhlah konsep diri kita kemudian. Sebuah kondisi yang seragam, yang terjadi disetiap balik pintu yang tertutup rapat, hampir pada saat yang bersamaan. Serentak dalam hitungan waktu-waktu yang diakumulasikan.

Yang berbeda, dari luar hanyalah pagar yang melintang pada setiap rumah. Pagar seakan-akan menjadi batas pembeda dari satu ruang ke ruang yang lain. Pagar disiapkan dalam kepentingan imaji pemasangnya, imaji tentang keterbukaan, persaudaraan, kepemilikan, kemampuan maupun keamanan. Pagar dihias dalam berbagai motif untuk menyampaikan pesan tentang seisi rumah kepada tetangga, orang yang melintas, pengemis yang mengantri maupun pengamen yang berdendang menunggu segelintir uang logam. Pesan tentang konsep diri kita agar bisa dipahami secara instan.

Pagar lantas urgent karena berada dilingkar paling luar dari rumah. Simpul paling krusial untuk membuat penegasan batas domestik dan privat agar menemukan penjelasannya lewat pagar yang dirangkai didepan rumah. Variasi bentuknya merupakan ekspresi perbedaan yang terdapat didalam rumah. Entah itu akan berkaitan dengan praktek tentang relasi ketetanggaan, ide kapital yang telah terakumulasikan, sekaligus menjadi batas penegas otoritasisasi ruang. Pagar mentransisikan sebuah proses interaksi yang ada, dimana seseorang boleh atau tidak melanjutkannya menjadi pola hubungan lebih lanjut. Rangkaian rumah dengan pagar adalah tempat untuk memulai sekaligus untuk mengakhiri. Bermulanya semua perbicangan kita akan berakhir dengan batasan pagar lalu rumah maupun sebaliknya. 

Rumah dan pagar, tak luput pula dari perubahan yang diberbincangkan oleh para teoritisi. Perubahan sebagai keniscayaan tentang sifat dasar manusia untuk berubah. Rekaman perubahan sejatinya terentang teramat panjang namun kenyataan hari ini adalah bagian yang terpisah dari catatan tentang kesadaran manusia tentang akal budi, kebebasan, demokrasi, kapitalisme hingga teknologi. Realitas paling akhir dan kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah tarik ulur atas kondisi tersebut.

Kesemuanya bertransformasi, mencari bentuk untuk mengakselerasi keberadaan maupun kebutuhan manusia yang telah teradministrasi baik secara politik, ekonomi dan budaya. Serta menstimulasi proses mobilisasi manusia dalam jumlah yang banyak menuju titik-titik yang menyimpul semua kepentingan yang ada dalam bentuk urban. Terdistribusikannya semangat manusia modern menciptakan mekanisme pencarian kebutuhan hidup diluar sistem masa lalu dan menuntut ruang-ruang baru dari keberadaan zaman untuk menyediakan berbagai harapan tersebut. Modernitas seakan-akan diwakili oleh fenomena terbentuknya kota dan masyarakat kota, sebab kehadirannya menjadi magnet atas gerak mobilisasi dengan beragam kebutuhan : diranah ekonomi, kota menyediakan sarana pemenuhan kebutuhan hidup lewat beragam bentuk, diranah kota pula budaya menjadi bagian dari distriubusi aset-aset manusia untuk pembentukka identitas. Dan dikota pula kita menemukan konstruksi atas kehidupan yang menjanjikan tawaran-tawaran lebih baik dengan semua mekanisme pemenuhannya.

Kita Membentuk Rumah : Realitas yang dinamis juga mengakselerasi tumbuh kembangnya rumah-rumah kita. Progresivitas kota dan masyarakat kota menjadi potret tentang bagaimana rumah berubah lalu menjadi bagian tersendiri dari peradaban manusia. Rumah terbentuk dengan pola berduyun-duyun memadat disisi jalan yang semakin memanjang, berjejal-jejal dengan rumah yang dirombak secara paksa menjadi tempat-tempat pertukaran komoditi manusia modern. Pergerakan untuk perubahan tak lagi dimonopoli oleh manusia semata karena ruang-rumahpun mengalami hal sama sebab pergeseran yang sesungguhnya adalah pergeseran peta mental manusia modern.

Epistem keterbangunan rumah dan pagarnya sebagai sejarah tak lagi ada karena esensi rumah kini hadir dalam bentuk-bentuk pilihan pragmatis. Pilihan yang akan menentukan standart kelas sosial, pilihan untuk menempatkan diri dalam cluster sosial yang baru, maupun pilihan untuk membuat hidup semakin mudah. Kategorisasi dibuat sebagai landskap bagi tatanan ruang-rumah ditengah-tengah kota yang semakin melebar. Identitas baru disematkan sebagai susulan atas bangunan identitas fisik yang telah mendahuluinya. Sejarah tak lagi harus memuat masa lalu sebab masa kini sudah menjadi masa lalu. Pesan-pesan mulia yang dipajang ada disetiap teras rumah adalah narasi masa depan yang penuh dengan kegembiraan. 

Rumah baru dan pagar baru adalah perayaan tentang kegembiraan. Kegembiraan atas kontraprestasi nalar-nalar modern yang terbirokrastisasi. Rumah menjadi sepi dan rapuh oleh minimnya aktivitas keseharian manusia. Tak ada lagi cerita yang diperdengarkan dari yang dulu ke yang kini, karena senyap telah merambat semenjak jam di dinding menjadi penanda dan mempercepat derak kehidupan. Keramaian rumah hanya dipenuhi oleh pertukaran-pertukaran waktu dan uang untuk menjadi tanda adanya kehidupan dirumah-rumah yang semakin membesar dan meningkat. Bagian-bagian rumah hanyalah ruang tanpa makna karena tak ada lagi aktivitas didalamnya. Berbagai tanda kebanggaan dipajang untuk dinikmati dalam kesendiriannya dan semuanya semakin tenggelam oleh menebal, meninggi dan menguatnya pagar-pagar rumah.

Sisi lain yang semakin menakutkan hadir lewat desakan arus komoditi yang tak terbendung, mengglontor seisi rumah kita lewat pesan maupun panduan tentang semua kebaikan menjadi manusia modern : sebaiknya kita minum apa, efek positif makanan tertentu, mengidentifikasi rambut dengan jenis shampo yang sesuai, mengurai kandungan dalam sejumlah susu formula yang tepat untuk anak-anak kita, sekaligus menyesuaikannya dengan cita-citanya kelak. Semuanya tersedia dalam sesaat lalu menjadi alasan bagi kita untuk memilih dengan alasan yang kita susun kemudian. Formasi nilai barupun diciptakan untuk menentukan standart hasrat yang harus sesegera mungkin dipenuhi dan identitas kita dibentuk dari dalam rumah. Yang sedang terjadi adalah terobjektivikasikannya semua hasil produksi-kapital menjadi sebuah kode-kode yang menstimulasi kebutuhan konsumsi kita. Kebutuhan seisi rumah dan kehidupan kita, kini ditentukan oleh struktur yang hanya memberi ruang bagi insting kita untuk segera memenuhinya dan tak lagi punya kemampuan menolak. 

Rumah berubah menjadi penuh-sesak dengan apa yang sudah dibeli, apa yang akan dikonsumsi dan catatan tentang apa saja yang harus konsumsi keesekon harinya. Pada saat bersamaan, jejaring kode yang secara intens menjerat untuk menerima panduan tak bisa dihindari. Kita tak bisa lepas dari hamparan tawaran yang membentang, terdengar ditelinga hingga tampak pada setiap pandangan diarahkan. Sebuah kondisi yang ekstrim, yang tidak memungkinkan hadirnya pilihan-pilihan yang lain kecuali mengadopsinya sebagai nilai-komoditi untuk kemudian mengkonsumsinya. Karena konsumsi juga sebuah penanda baru bagi masyarakat modern.  

Energi hidup lalu terserap dalam dalam upaya-upaya pemenuhan hasrat semata. Rantai jejaring individu semakin rentan untuk putus karena bingkai-bingkai sosial retak oleh formasi pagar rumah yang terbaharui. Jarak yang dibentuk oleh kepentingan status tak terasa semakin melebar. Asing dan terasing menjadi pola relasi satu sama lain. Intensi dalam rumah yang tak lagi bisa dipertahankan kini ikut memendar keluar pagar dan merangsek rumah-pagar yang lainnya. Tak ada lagi tegur sapa, tak ada lagi kesempatan sejenak berbicang, tak ada lagi alokasi untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia sebab semuanya telah terjadwal, tertarget dan terukur. Skala waktu menjadi daya tolak untuk melakoni hidup sehingga semua terasa terburu-buru, mendesak dan tak cukup untuk menghela nafas, apalagi rehat. 

Nalar kehidupan masyarakat kota seakan-akan mutlak rasional. Budaya yang terteknologisasi tak memberi ruang bagi emosi dan kesadaran tentang makna. Irasionalitas hadir dalam bentuk lain dan terasa masuk akal karena menjadi komoditi baru dengan jargon-jargon yang diedukasikan secara massif. Tuntutan agar semuanya rasional otomatis mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain dan kondisi ini menjadi teror yang terus menerus diingatkan oleh kepentingan akumulatif dan kompetisi yang seakan-akan tiada akhir.    

Konflik mengalami signifikasinya. Tarikan domestik ke publik dan sebaliknya menjadi pelengkap bagi kebingungan-kebingungan tentang arah peradaban. Mekanisme yang memacu semangat untuk berkompetisi lalu meniadakan kehadiran yang lain, sebuah kondisi yang mengingatkan kita tentang teks-teks klasik absennya hukum dan absolutnya kekuasaan. Persoalan sederhana lalu memicu gelombang konflik yang besar, bahkan terlalu besar pada beberapa rekaman yang bisa kita lihat di media-media. Tatapan terhadap pesan-pesan horor terasa hambar karena atensi yang tak lekang hadir terus menerus. Pesan-pesan horor tidak lagi dimonopoli pelaku kejahatan namun telah meluas menjadi bentuk-bentuk kebanggan baru dalam masyarakat yang senantiasa terawasi oleh teknologi media yang merekamnya tiada henti.  

Pembiaran ada dimana-mana. Praktek kekerasan menjadi cara paling mudah untuk berkonflik dan upaya untuk menyelesaikan konflikpun tak tersedia opsi yang memadai sehingga imaji yang terserap dalam lamunan-lamunan di depan kotak televisi menjadi pilihan. Pagar-pagar yang merapat sebagai sekat-sekat domestik hanya menyisakan ruang-ruang konflik yang penuh semangat untuk duel dan tak memberi kesempatan orang lain menengahi. Aparat tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya dan penuh dengan olok-olok kelemahan. Tak ada lagi keteladanan yang mesti dijadikan rujukan sebab teror didistribusikan oleh figur-figur yang seharusnya melakukan kendali atas realitas.

Eksistensi rumah semakin rapuh. Tak sama dengan menebalnya fisik rumah-pagar, mentalitas yang terbangun luluh oleh kenyataan-kenyataan yang senantiasa pilu. Kepiluan lalu menjadi maenstrim untuk dikomoditikan. Kisah-kisah domestik tersebar karena dirasa penting. Kejadian nun jauh dan tiada urgensinya tiba-tiba dihadirkan agar setiap kita sadar lalu terlibat. Alam sadar kita diasupi dengan ragam info yang tiada guna kecuali kita menganggapnya layak untuk dipahami. Dan anehnya, kenyataan tersebut dianggap krusial buktinya adalah membanjirnya  semua realitas semu dalam rumah-rumah kita. Dimulai dari terbuka kelopak mata maka sajian-sajian untuk diserap sudah tersedia dan tak akan habis sampai kita memulai menutup mata karena lelah. Kondisi yang senantiasa berulang dalam hitungan waktu.   

Tak ada lagi kesempatan untuk untuk merenung sebab berdiam diri adalah kesalahan. Kerja, kerja dan kerja yang melintas dalam otak-otak kita. Kondisi yang bisa dimaklumi mengingat sangat sistematisnya pendidikan merancang kemungkinan-kemungkinan terburuk dari kegagalan. Ketidakmampuan lalu jarang kita temui sebab setiap kita merasa mampu. Berpengetahuan harus senantiasa liner dengan kompensasinya karena hidup adalah memperbincangkan hasil lalu menumpuk-numpuk kapital sebagai tujuan akhir. Dan itulah yang ditanamkan dikelas-kelas, yang diingatkan ketika keluar rumah dan yang diburu ketika berada dalam jejaring sosial yang ada. Tak ada lagi makna pelayanan layaknya anak kepada orang tua, seperti relasi suami-istri maupun alam kepada kehidupan. 

Makna hidup layaknya pandora dengan ujung kebingungan. Pilihan-pilihan tentang kemuliaan adalah minor. Sebab kesadaran tak lagi berbenih sehingga meminimalisir kesempatan untuk berbuat kebaikan. Kenyataan yang ada disekitar kita senantiasa berubah namun jaminan tentang kebaikan-kebaikan sebagai sebab akibat dilirisnya akal budi seperti hambar. Namun jikalau diajukan pertanyaan : masih tersisakan ruang-ruang untuk merangkai keyakinan tentang hidup dan kehidupan yang lebih baik ? Bagi saya, sangat mungkin. Dan jawabnya akan bermula juga dari dalam rumah-rumah kita. Untuk itu, bukalah pintu-pagar rumah dan mari duduk-duduk diteras rumah kita ..

*dusun benowo, rt o4 rw o8 ngringo jaten

catatan, gumanan diatas tentu bisa didalami lebih lanjut, dengan beberapa bacaan yang terkait :
diskusi tentang konsepsi keluarga-kekerabatan bisa dimulai dari : Hildred Geertz, Keluarga Jawa, Grafiti Pers 1983, John Sullivan, Local Goverment and Community in Java, Oxford 1992. Hotze Lont, Jugling Money in Yogyakarta, Thela Thesis 2002.
sedangkan diskusi tentang bagaimana ruang-ruang kota berubah bisa dirujuk dari : Abidin Kusno, Ruang Publik, Identitas, dan Memori Kolektif, Ombak 2009. Clifford Geertz, Mojokuto, Dinamika Sebuah Kota di Jawa, Grafiti 1986. F Budi Hardiman, Memahami Negativitas, Kompas 2005. Freek Colombijn, Paco-Paco Kota Padang, Ombak 2006. Jones & Hull, Indonesia Assesment, Population and Human Resourches, ISEAS 1997. Henri Lavebvre, The Urban Revolution, Mineasota 2002, Henri Lavebvre, The Production of Space, Blackwell 1991. Lea Jellineck, Seperti Roda Berputar, LP3ES 1995. Rudolf Mrazek, Engineers of Happy Land, YOI 2006.
adapun kutipan penggalan puisi diatas diambil dari, Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, Indoenesiatera 2004 :131

Senin, 07 Februari 2011

Menjual "CInta" Mendulang Rupiah

          Narasi Picisan

Limpahan kisah cinta pereda nelangsa.
Keberterimaan dan kebermaknaan cinta
mengalun dalam tembang, melenggang dalam tari,
menderu dalam bunyi. Kisah-kisah cinta merembes
dengan gelimang kata mirip untaian sabda suci
ala pendeta dan raja.  Sastra sakral pun ditebarkan
untuk penghidupan, melegakan spiritualitas,
kontrol kultural, dan semaian ideologis.

Politik bunyi pun seolah bergerak dari pusat,
menyebar dan memancar sebagai imperatif.
Cinta terbingkai dalam taburan misi dan acuan
pelik atas peran dan risiko zaman.
Gerak mengejawantah sebagai pengucapan cinta,
menyapa lewat tubuh, mengantarkan ziarah imajinasi
membumi-melangit. Pensakralan dalam latar kekuasaan
diafirmasi sebagai pembakuan untuk iman dan amalan rakyat.

Episode dalam remang sejarah ini mirip monumen cinta
sebagai akar atau asal. Kita melampaui zaman-zaman itu
seperti menggerakkan kaki tergesa,
menghembuskan nafas dalam gerah,
menuntun tubuh untuk tak istirah.
Kisah-kisah cinta menyusup lembut-kasar
memakai pelbagai wajah, nama, dan klaim.

Telisik kitab-kitab cinta dari Timur dan Barat
menyulut gairah pemaknaan dalam tiruan,
manipulasi, dan olahan-ulang. Kondisi ini menggetarkan definisi
dalam ketidakstabilan dan rancu adalah kondisi tak terelakkan.

Tokoh-tokoh mengental sebagai ikon, peristiwa jadi keajabian,
atau kalimat menjadi konstitusi.  Segala urusan cinta
seolah peribadatan universal dengan topangan-topangan suci
dan abadi. Kita meminggirkan diri untuk pengisahan buruh-buruh
kasar di kota-kota besar saat suntuk membaca
novel-novel Motinggo Busye. Mereka miskin dan serakah
kisah. Keberanian membelanjakan uang untuk novel-novel
cinta picisan mencipta kultur kemiskinan kota
dalam jerat imajinasi. Buruh atau kuli adalah jamaah novel.
Kisah cinta berkelindan lincah, mengondisikan hidup,
dan menyelamatkan represi politik-ekonomi-sosial.

Novel-novel cinta picisan mirip paket penyelamatan hidup
dan damba atas ilusi-ilusi menampik kemiskinan.
Kalangan remaja pun memuja cinta
dalam pensituasian ideologi kultur kota.
Eddy D Iskandar memroduksi novel-novel cinta,
memberi sihir, membuka jalan romantisme.
Para pembaca novel-novel cinta
seolah membatalkan pembatasan nasib, kelas,
jenis kelamin, alamat, atau agama.

Kondisi ini menerangkan kelihaian kisah cinta
menabur berkah atau petaka. Dunia hidup,
geliat imajinasi, dan antologi pengharapan
hadir bebarengan dengan keputusasaan, dendam,
iri, dan nelangsa. Di bilik rumah, jalan, dan warung makan
pun mengalun tembang-tembang Waldjinah, Mus Mulyadi,
Didi Kempot, Manthous, dan Cak Dikin.

Hajatan di kampung-kampung merayakan lagu-lagu
cinta picisan. Keluhan atas nasib hidup mendapat penghiburan
dari campursari ala Manthous. Ratapan lelaki
atas kepicikan cinta terlantunkan oleh Didi Kempot.
Narasi cinta menjelma hembusan nafas keseharian.
Cinta adalah ibadah. Sisipan-sisipan itu lekas dihabisi
oleh serakah cinta dalam televisi.

Nasib penonton pendamba sorga cinta
memusat ke televisi. Peribadatan dalam lagu,
film, atau bacaan teringkas dalam sinetron dan film-televisi.
Ibadah harian ini meringkus tubuh, menyembunyikan imajinasi,
dan memacetkan nalar. Puja cinta membatalkan
kemiskinan, kebodogan, kemalasan.
Cinta terpahamkan sebagai dalil eksploitatif.

Uang adalah dunia tak selesai kendati acara selesai
dan mematikan penonton. Kita menerima semua ini
dengan berantakan. Hasrat kebenaran, kehormatan,
kemuliaan, kesantunan, dan kearifan menjadi lema-lema asing
dalam kamus mutakhir. Perayaan cinta menilep
kemauan memartabatkan diri. Para pengemis cinta
dilahirkan dalam hitungan detik
tanpa harus mengingat lagu Jhonny Iskandar.

Dendang sengsara cinta ala dangdut dan campursari
masih terus mengajak para penjoget meluluhkan diri
dalam cinta. Kita bakal lelah menarasikan semua itu
dengan kekenesan referensi dan pengalaman.
Puisi-puisi cinta juga bangkrut untuk mengembalikan kita
dalam renungan dan pensucian diri.
Puisi-puisi cinta mungkin telah memalukan dan melenakan.
Begitu.      


Bandung Mawardi, pengelola Jagat Abjad dan Pawon Sastra.
Tulisan-tulisan dimuat di Kompas, Koran Tempo,
Media Indonesia,Seputar Indonesia, Jawa Pos, Pikiran Rakyat,
Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Solopos..
Penulis Risalah Abad (2oo9) dan Sastra Bergelimang Makna (2o1o).
Telp. o85647121744 dan email bandungmawardi@yahoo.co.id