"Tujuan dari propaganda modern
adalah tidak lagi mengubah opini,
tetapi membangunkan sebuah kepercayaan yang aktif
terhadap mitos"

(Jacques Ellul)

Selasa, 01 Maret 2011

SKP Kuliah ke - 5


Term of Reference (TOR)

Mengurai Nalar Postmodernisme dan
Nasib Masa Depan Gerakan Sosial

                                                                                                       

“Dalam ruang Postmodernisme yang multidimensional dan licin ini,
Segala sesuatunya bisa berlangsung sesukannya,
Seperti halnya permainan-permainan tanpa aturan”
(Suzy Gablik)


Telaah dan refleksi kajian yang mendalam tentang berbagai isu gerakan sosial menjadi penting untuk dilakukan terus-menerus. Apalagi terkait dengan fondasi utama perspeketif pemikiran yang penting dikembangkan. Setidaknya bisa memberi kontribusi pada kajian yang serius tentang kondisi dinamika gerakan sosial saat ini. Seiring dengan karakter perkembangan sosial yang tidak menetap dan berhenti, maka kajian tentangnya selalu akan menjadi bermanfaat. Telaah tersebut menjangkau tidak hanya berbagai praktik pengalaman yang berkembang dalam dunia gerakan sosial, tetapi mengembangakan sampai pada ranah terdalam upaya reflektif teoritis. Tentu dua dimensi ini penting untuk membaca berbagai fenomena keunikan, kekhususan, keragaman sampai pada prinsip-prinsip normatif keumuman yang diandaikan bisa berlaku universal.

Banyak dimensi tantangan yang cukup luas dalam setiap usaha untuk menggambarkan situasi dinamika gerakan sosial. Cita-cita meletakan prinsip pedoman kokoh untuk mengkaji berbagai nalar pandang teoritik gerakan tentu tugas yang tidak gampang. Dimensi kerumitan yang membentang dari berbagai domain partikular sampai prinsip-prinsip universal yang mempengaruhi membentang begitu luas. Ditambah bahwa konsistensi antara apa yang dipikirkan dan apa yang dipraktikan kadang sering menyisakan persoalan. Belum lagi eksplorasi tidak hanya berhenti pada apa yang eksis dan bisa diserap oleh pancaindera secara empiris. Problem gerakan sosial sering juga menyangkut persoalan penting mengenai relasi-relasi nilai yang lebih bersifat abstrak. Relasi-relasinya juga banyak menyentuh dunia batin subjek yang juga menyiratkan banyak fenomena yang rumit dari sekedar apa yang ditampakkan.

Tema menyangkut problem gerakan sosial menggambarkan situasi yang dinamis baik pada konjungtur historis yang berjalan atau dinamika ruang yang terbentuk. Perjalanan gerakan sosial kadang bukan hanya persoalan narasi perjalanan yang sifatnya linier. Kecenderungan dialektikanya kadang banyak melahirkan improvisasi, penyimpangan dan bahkan penyangkalan, entah ia buah atas nalar sengaja maupun konsekuensi setelahnya yang tidak disadari. Derivasi ‘praktik’ atas ‘teori’ kadang tidak sesederhana seperti halnya seorang desainer pakaian yang membuat desain untuk bentuk, ukuran, bahan dan motif karya baju rancangannya. Realitas sosial bergerak, berubah dan berkembang. Realitas sosial tak bersifat pejal yang bisa terumuskan secara mutlak, pasti dan definitif. Dalam sejarah teori-teori gerakan sosial, perdebatan peran perspektif, teori tau ideologi masih tetap menghangat hingga hari-hari ini. Tentu, perbedaan ragam interpretasi gerakan sampai pada tingkat praktik, tidak lepas dipengaruhi oleh berbagai cara pandang tersebut. Ia  adalah cermin gambaran tentang bagaimana manusia, masyarakat, dunia sosial dan bagaimana berbagai ranah kesadaran tersebut harus dibaca, dibentuk dan dipersepsikan.

Postmodernisme sebagai satu tema diskursus pengetahuan telah hadir menjadi perbincangan terus-menerus dikalangan intelektual Indonesia akhir-akhir ini tidak terkecuali tradisi pengetahuan kampus. Studi-studi tentangnya baik dalam aspek pemikiran dan imbasnya pada bidang-bidang disiplin khusus pengetahuan telah ramai diterapkan. Tidak jarang ia justru menjadi trend khusus terutama pada bidang-bidang yang dekat dan bersentuhan seperti ilmu komunikasi, seni, teknik dan budaya. Sebuah fitur pengetahuan yang menyedot banyak energi perdebatan tahun-tahun ini. Beberapa tulisan bahkan menyebut sebagai sebuah babak baru dalam perkembangan peradaban kontemporer. Perkembangannya seakan telah melampui diskusi-diskusi tentang modernisme dengan segala karakteristik kebudayaannya yang sebelumnya amat kencang. Riset serius bagaimana perkembangan pengetahuan ini bisa menjadi membudidaya dalam tradisi pengetahuan gerakan amat penting dilakukan. Sebagai hasil, tema diskusi ini tentu bisa menyumbang kontribusi berharga bagi penelusuran sejarah perkembangan tradisi pengetahuan, terutama dalam bangunan tradisi keilmuan di kampus.

Diam-diam nalar tradisi ini subur bertumbuh. Dalam beberapa kurikulum wajib di bidang, jurusan dan fakultas tertentu, pemikiran ini sudah diterapkan. Dengan akses tersediannya banyak buku, jurnal dan kajian literatur yang membahas tentang postmodernisme, dosen dan para mahasiswa lebih terbuka mendapat pembelajaran. Berbarengan dengan kian tidak diminatinya studi-studi ‘positivistik kuantitatif’ yang amat mekanis, terutama seiring mazhab pemikiran ‘developmentalisme’ yang sudah banyak ditinggalkan, tradisi riset dan pemikiran postmodernisme mulai dilirik menjadi satu alternatif yang penting. Bagaimana pengaruh mazhab tradisi pengetahuan ini dalam kontribusi bentuk dan pola gerakan sosial? Sebuah tugas yang sangat menantang yang secara khusus belum banyak disentuh dalam banyak tulisan tentang fenomena dan polemik postmodernisme. Peran tradisi keilmuan kampus tentu bukan satu-satunya yang bisa diklaim menjadi variabel pengaruh besar. Tetapi setidaknya jika saja bukan pada ruang kampus tradisi ini dominan dikembangkan, terus dari ruang epistemik apa saja ia bisa berkembang pesat saat ini?

Tentang penelusuran bagaimana postmodernisme berkembang di kampus, hanya sebagian maksud utama tema pendiskusian ini. lebih jauh itu, tema diskusi ini lebih memusatkan pada berbagai nalar dan dasar-dasar pemikiran yang terbangun dalam perspektif postmodernisme yang pada kenyataannya memberi sumbangan pada pola tradisi gerakan sosial saat ini dan berbagai diskursus yang dibangun. Pada hal yang pertama menyangkut wujud, pola dan kecenderungan bentuk pilihan praksis yang dikembangkan. Pada yang kedua lebih menyangkut kecenderungan-kecenderungan diskursus gerakan menyangkut tanggapan-tanggapan isu atau perdebatan wacana tematik tentang sebuah problem tertentu yang sering sering diperbincangkan.

Untuk capaian yang lebih penting, eksplorasi penelusuran transformasi pilihan model, pola, tradisi dan diskursus dominan yang dikembangkan gerakan tetap selalu akan diletakan pada refleksi besar bagaimana wajah dan arah ‘gerakan sosial’ saat ini harus dikemas. Pilihan ini tentu secara sadar dipilih bukan hanya sebagai eksploras deskriptif semata melainkan batu pijak untuk membangun nalar refleksi gerakan sosial lebih besar. Dalam premis dan tesis utamanya, gagasa kuliah kelima ini ingin memberi landasan keyakinan besar bahwa nalar pikir postmodernisme yang berkembang tidak semata bisa dilihat hanya sebagai ruang pilihan alternatif yang sifatnya netral. Sebagai wujud pemikiran dan situasi kondisi sistem budaya tertentu, postmodernisme dengan segala jargon penalarannya masih banyak mengandung problematik yang serius.

Secara defakto, sebagai nalar kebudayaan berpikir, postmodernisme tidak hadir secara tiba-tiba. Ada dasar nalar-nalar yang perlu dikaji dan dilihat. Klaim-klaim postmodernisme dalam menyusun janji babak baru bagi perkembangan lebih baik masyarakat menjadi isu penting yang harus dibongkar. Narasi-narasi penting yang dibangunnya perlu dicermati secara kritis. Masih banyak polemik yang mengemuka untuk merumuskan situasi postmodernisme. Baik pendukung maupun pengkritiknya memiliki titik argumentasi masing-masing. Parahnya, seringkali apa yang berkembang dalam kesadaran pengetahuan sehari hari tidaklah bertumbuh dengan baik. Pengertian yang tertangkap lebih hanya sekedar kulit luarnya yang masih penuh dengan jargon-jargon pengandaian. Bahayanya lagi, ia lalu hanya dikunyah-kunyah sedemikian rupa dan menjadi landasan prinsip pandangan yang digunakan untuk melegitimasi pilihan-pilihan tertentu dalam gerakan.  Di banyak hal lebih nampak hanya sebagai kemampuan bermain retorika ketimbang mengembangkan rigoritas argumentasi yang jernih dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tugas dan niat penting dalam gagasan tema diskusi ini untuk menyingkap berbagai ilusi, kebohongan, kesalahan, dan premis pengandaian-pengandaian yang problematis, terutama dalam berbagai diskursus teoritik yang dikembangkan. Secara implisit pula pembongkaran ini sebagai cara pula untuk memberi catatan kritis pada situasi kecenderungan gerakan sosial  kontenporer saat ini. Tujuan utamanya tentu tidak jauh-jauh dari prinsip teoritik yang ingin dikembangkan, yakni untuk membangun kritik atas nalar postmodernisme sekaligus kritik yang dialamatkan untuk kelompok-kelompok gerakan yang terinflitrasi dalam nalar gagasan besar postmodernisme.

Secara sadar tentu gagasan ini juga menyadari bahwa korelasi pertalian ini tidaklah bisa dilihat secara seragam terutama menyangkut apa yang dimaknai sebagai pengaruh gaya dan nalar berpikir ini bagi gerakan. Pilihan terhadap prinsip-prinsip keyakinan postmodernisme bisa jadi tidak secara sadar karena pengaruh pembelajaran secara sadar yang dilakukan oleh para aktifis gerakan. Pertama, bisa jadi ia hanya bagian dari ekspresi pilihan yang terlahir dari frustasi atas kegagalan-kegagalan gerakan. Kedua, ia juga bisa  hanya bagian dari warna umum reaksi dari sebuah gaya kebudayaan lebih besar yang memberi determinasi pengaruh perubahan tersebut. Ketiga, tidak menuntup kemungkinan ada ruang-ruang paradoks, ambiguitas, ironi di antara berbagai praksis gerakan yang dijalankan. Memberi batasan terhadap korelasi ini tentu bukan pekerjaan yang mudah karena kenyataannya banyak yang tidak secara eksplisit mendeklarasikan diri dengan begitu saja atas pertimbangan pilihan perspektif gerakan dengan berbagai pertimbangan.

Kepentingan lebih besar dari cara penelusuran ini adalah bahwa catatan kritis terhadap gejala nalar pikir postmodernisme bisa diletakan juga sebagai ‘kritik epistemologis’. Sebuah tugas ilmiah dan sekaligus etis untuk memberikan berbagai kemungkinan kelemahan dan kesesatan yang ada dalam tubuh perspektif ini terutama pada gagasan-gagasan penting yang harus dibangun gerakan sosial ke depan. Jika meminjam aporia postmodrnisme tentang ‘pluralitas’ kebenaran, bisa jadi pula jauh untuk sampai membayangkan bahwa nalar pilihan itu memang didasari atas keyakinan teoritis pada semangat awal para pengagas postmodernisme. Ia mengembang dan bermetamorfosis pada kepentingan yang berbeda dengan cita-cita dasar awalnya.

Mengkaitkan ‘postmodrnisme’ dan ‘gerakan sosial’ jika dibaca secara harafiah semata seakan hanya menjadi sebuah kajian ambisius yang mengada-ada. Pertama tama tentu kedua entitas tersebut mengandung dua nalar yang tidak begitu saja mudah untuk dipertemukan. Tentu anggapan semacam ini bisa saja muncul ketika apa yang dibayangkan mengenai ‘gerakan sosial’ mengandung sebuah arti batasan tertentu. Ia masih digambarkan sebagi satu cara pengejowantahan dari bangunan atas cita-cita ideologi tertentu yang sudah fixed diperjuangkan. Gerakan sosial dalam pandangan umum ini selalu diasosiasikan sebagai bentuk tindakan kolektif kelompok atau komunitas tertentu yang dilandasi atas cita-cita bersama yang tetuang dalam grand kesepakatan dan perjuangan umum yang sebelumnya telah digariskan. Ia mempunyai dasar pijakan visi misi yang lebih formal dan tertutup dengan berbagai derivasi aturan organisasi yang ketat. Atas gambaran ini saja, gerakan sosial dimengerti dalam batas-batas garis gambaran yang jelas.

Dengan berbagai perbedaan, sebuah gerakan yang terrepresentasi semacam ini selalu mempunyai garis-garis prinsip ideologi dan visi-misi yang jelas. Lebih jauhnya, ia bisa dianggap sebagai proses terarah terutama sifat manajemen tindakan organisasi yang dibentuk. Sedangkan dalam prinsip yang berbeda, pengandaian unsur pluralitas, diferensiasi dan kerelatifan dalam memandang aspek kebenaran membuat postmodernisme jika harus ditempatkan sebagai pilihan sadar yang dipakai sebagai payung perspektif ideologi tentu masih rumit untuk dibayangkan. Dalam pengertian tertentu yang ada di awam, bentuk dasar dari gerakan sendiri tentu amat sulit jika meletakkan nalar postmodernisme di dalamnya. Terus apa yang sebenarnya jauh lebih penting kita lihat?

Problem di atas akan banyak memaksa pentingnya mendudukan perspektif dasar tentang pemahaman apa yang dimaksud ‘gerakan sosial’ sesungguhnya, walau secara definitif jadi terlihat mustahil untuk dirumuskan. Pertama, apa yang bisa lebih maju dilakukan adalah memotret berbagai gambaran umum melalui berbagai eksplorasi pengalaman tentang berbagai fenomena gerakan sosial yang sedikit banyak menjadi garis penerang dalam penjelasan dan pemaparan selanjutnya. Jika lebih memperkaya dalam pendalaman tentang gerakan maka jauh dari gambaran umum tersebut, kajian tentang gerakan sosial lebih banyak menjangkau pada berbagai warna, bemtuk, model, gaya, dan pilihan-pilihan tindakan kolektif yang lebih luas dikembangkan. Artinya tentang contoh-contoh kongkrit atas figure gerakan sosial untuk kepentingan ini tidak dibatasi hanya pada bentuk tunggal tertentu. Potret besar yang ingin didapat adalah gambaran umumnya. Diakhir gagasan tentu mau tidak mau perspektif para narasumber akan lebih nampak untuk mejadi tawaran yang bisa didiskusikan. Kedua yang relatif bisa terkaji untuk dimaksimalkan adalah bagaimana nalar pikiran dan diskursus yang berkembang yang tertuang dalam berbagai bentuk verbal wacana, narasi, opini atatupun sikap pandangan yang selama ini menjadi kecenderungan nalar dalam gerakan sosial. Klaim-klaim pandangan mereka apakah memang mempunyai karakteristik yang dimengerti sebagai nalar berpikir dalam keyakinan postmodernisme. Sebuah kemungkinan yang lebih bisa menjanjikan untuk dieksplorasi lebih dalam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar