"Tujuan dari propaganda modern
adalah tidak lagi mengubah opini,
tetapi membangunkan sebuah kepercayaan yang aktif
terhadap mitos"

(Jacques Ellul)

Selasa, 11 Januari 2011

Ketika Kemiskinan Menjadi ‘Hiburan”


Ketika Kemiskinan Menjadi ‘Hiburan”
(Kemiskinan dalam Nalar Modernitas)

Mengapa 'kemiskinan' masih terus bertahan dan bahkan semakin meningkat 'kualitas' dan 'kuantitasnya'? Mengapa juga 'hari-hari ini' kemiskinan yang begitu bisa dirasakan tetapi tetap masih belum menjadi 'problem krusial'' yang harus menjadi agenda penting 'negara'? Mengapa pula di ruang yang makin 'termodernisasi' yang menganggap mempunyai kemampuan yang lebih maju, yang lebih cepat dan yang lebih efektif untuk menangani kemiskinan justru selalu gagal? Perkembangannya justru semakin menyedihkan. Ruang dan kondisi kemiskinan makin merebak tetapi di saat itu pula 'menyaksikan yang miskin' menjadi mudah terbiasa. Di titik ini apa yang disebut 'kepedulian', 'empati', 'etik solidaritas' dan bahkan cita-cita keperpihakan semakin hanya menjadi barang murahan yang mudah dibuang di keranjang sampah.

Gejala-gejala bahwa 'yang terlantar', 'yang miskin' dan 'yang terpinggirkan' harusnya menjadi pusat energi semua orang untuk beranjak dari egoisme diri dan sekat-sekat ketimpangan kelas, tetapi justru berjalan sebaliknya. Memang di beberapa gejala dan perkembangan ada beberapa cara dan upaya untuk menangkap dan menyelesaikan problem ini. Pada masa ketika 'kemiskinasn' menjadi isu besar yang digarap oleh para aktifis sosial, NGO ataupun lembaga-lembaga sosial, yang terjadi justru lebih mengesankan bahwa 'kemiskinan' hanya menjadi tema jualan dan komoditi bagi apa yang disebut 'pelaksanaan proyek program. Gejalannya menjadi bahwa 'si miskin ' menjadi sexsi untuk dijual sebagai cara untuk mencari pundi-pundi mengalirnya uang. Lagi-lagi pula 'kemiskinan' menjadi komodity sosial yang bisa menghasilkan ratusan milyar bagi para pemangku lembaga tersebut. Yang miskin tetap akan miskin dan justru apa yang disebut sebagaii 'pemberdayaan' tak ubahnya menjadi 'memperdayai'. Ia tetap saja tak beranjak dari tempatnya yang terpinggirkan dan bahkan lebih parah lagi 'terpenjara' dalam 'identitas' dirinya yang dikonstruksi untuk menguntungkan siapapun baik ia yang mengatasnamakan lembaga sosial, partai politik dan bahkan pemerintah.

Gejala makin rumit. Di era modern ini, setidaknya ketika gejala kapitalisme kontemporer terbangun dengan berbagai kekuatan teknologi terutama media massa, kemiskinan lagi-lagi juga menjadi 'barang sexsi' untuk dikomodifikasi. Ia tak lagi menarik untuk membuat orang kemudian tergerak hati, pikiran dan tenaga untuk membantu. Ironi yang dihadirkan, kemiskinan kini menjadi tema-tema menarik hiburan selain sinetron, film, iklan ataupun reality show yang lain. Ya....'kemiskinan' menjadi hiburan. Ketagangan yang dimunculkan bisa jadi memang mengobok-obok rasa emosi dari para penonton, tetapi ia berhenti di titik itu. Dengan kemampuan dramatisasi kamera dan kemampuan media, kemiskinan telah disulap menjadi cerita epos menarik. Para penontonnya tak lagi orang kaya yang menjadi sasaran untuk diajak peduli, tetapi masyarakat miskin justru yang terbanyak melihat kondisinya sendiri. Anehnya 'masyarakat miskin' dalam beberapa riset justru terhibur. Seolah-olah bahwa 'nasib' dan 'problem' yang dihadapi telah menjadi perhatian sepenuhnya dari orang lain. Di beberapa siaran media, tema-tema acara yang mengangkat isu ini menjadi mendapat 'rating penonton' yang amat tinggi.

Ya...tidak salah kalau kemudian 'kemiskinan' menjadi pusat-pusat 'katarsis baru' yang menjanjikan bagi bisniis media yang sejatinya menjadi tangan-tangan panjang bisnis kapitalisme secara lebih besar. Isu-isu kemiskinan menjadi salah satu peluang isu yang amat cantik untuk dijadikan program acara yang menghasilan keuntungan yang luar biasa. Ia sekaligus juga bisa menjadi mekanisme modus bagaimana sebenarnya rute akumulasi modal tidak berhenti. Dengan memberikan berbagai kejutan-kejuatan pemberian uang gratis, uang kaget ataupun sejenisnya, sebenarnya harapan jauh yang ingin dicapai adalah melancarkan logika nalar rute modal tetap berjalan. Toh akhirnya ketika 'si miskin' mendapatkan rejeki kejutan, ia tetap saja kemudian 'dipaksa secara tidak langsung' untuk mengembalikan lagi dalam bentuk pembelian barang-barang. Rumusnya tetap sama kapitalisme semoga tetap bisa berjalan. Jika tidak ada yang membeli maka kapitalisme akan kerepotan.

Ada tiga persoalan yang saat ini perlu kita kupaqs bersama-sama : Pertama, penting untuk menjelaskan nalar-nalar laten yang sebenranya menjadi prinsip logic dasar yang dimiliki oleh modernitas dan kapitalisme dengan segala mesin beroperasinya sehingga masyarakat akan mengerti bagaimana sebenarnya problem seperti ini bisa difahami dan dimengerti. Jika tidak ia akan menjadi mempertajam ruang hegemoni bagi masyarakat. Keprihatinan yang lebih besar sejatinya justru datang ketika 'kemiskinan' kemudian dianggap menjadi persoalan yang 'biasa' dan 'wajar'. Jika demikian ia tentu menjadi barang persoalan yang serius. Tak mungkin berharap bahwa kondisi ini akan mampu menhggerakan empati dan solidaritas kritis bagi semua orang jika ia dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan lumrah. Kedua, diharapkan bisa menemiukan ruang-ruang dan metodologi penting untuk bisa memberi gerakan resistensi dan upaya untuk memberikan jawaban yang lebih tajam. Tentu ini bukan persoalan yang ringan, tetapi jika ada kehendak dan rumusan metodologi yang benar maka problem ini bisa lambat laun mampu dipecahkan. Ketiga, barangkali berbagai kajian yang menyoroti problem ini harus banyak digali dengan berbagai pendekatan teoritik dan analisis yang beragam dari berbagai spektrum sehingga penyelesaian apapun tidak terpotong-potong dan terfragmentasi, tetapi menjadi kekuatan yang penuh.

1 komentar:

  1. komentar saya singkat : ketika kemiskinan tidak lagi menjadi hiburan, lalu bagaimana masa depan media? kemiskinan menjadi menarik ketika dipertontonkan, lalu mengundang haru dan belas kasihan...

    salam hangat,
    "saya berbelanja, maka saya ada"

    BalasHapus